Program Kerja Terdekat BEM POLSRI 2010-2011


1. Sosialisasi Undang-undang Tata Tertib Lalu Lintas
2. Peringatan Hari Ibu Ke Panti Jompo dan Aksi
3. Penanaman Pohon

Waktu Pelaksanaan: 21, 22 dan 29 Desember 2010
Tempat: Aula KPA POLSRI, Panti Jompo dan Jaka Baring Palembang

Sosialisasi Ke Jurusan akan dimulai Hari Kamis 22 Desember 2010

Senin, 25 Oktober 2010

Membaca Kritis "Doktrin Natalegawa"


**POLITIK luar negeri Indonesia era Marty Natalegawa memunculkan sebuah perspektif baru yang khas: ”doktrin natalegawa”. Pada intinya, doktrin ini menekankan politik luar negeri RI di antara keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium), serta menganggap bahwa polaritas kekuatan telah tersebar dan memungkinkan kerjasama antarnegara (Kompas, 5/5).

“Keseimbangan Dinamis”

Doktrin Natalegawa –seperti disebut oleh Rene Pattiradjawane, wartawan Kompas— berkeyakinan bahwa politik internasional berada dalam kondisi “keseimbangan dinamis” dan “perdamaian dingin”. Artinya, polaritas yang menjadi karakter utama politik internasional pasca-perang dingin diyakini mengalami pergeseran-pergeseran.

Menurut Pattiradjawane, Amerika Serikat yang menjadi “pemenang” dari perang dingin ternyata tidak serta-merta menjadi hegemoni tunggal dalam politik internasional. Munculnya blok ekonomi baru seperti BRIC (Brazil-Rusia-India-China) serta adanya kekuatan-kekuatan tandingan Amerika Serikat macam Iran atau Venezuela memperlihatkan fakta tersebut.

Kondisi keseimbangan dinamis juga memandang adanya posisi setara antara negara-negara “selatan” untuk bekerjasama secara damai dan “mutual” tanpa harus tergantung dengan hegemoni. Implikasinya, politik luar negeri harus menjangkau potensi-potensi kekuatan pada kekuatan “selatan-selatan” tanpa harus menafikan adanya kekuatan “utara”. Hal ini tercermin dari arah kebijakan luar negeri RI.

Doktrin ini juga memandang bahwa dunia mengalami kondisi cold peace (perdamaian dingin). Kekuatan-kekuatan lama sisa perang dingin masih eksis, tetapi muncul kekuatan lain yang tak dapat diremehkan. Relasi antara kekuatan-kekuatan tersebut tidak konfliktual seperti zaman dulu, melainkan kompetitif, dinamis, dan berkisar pada soal-soal nonpolitik.

Apalagi, paradigma mengenai keamanan juga telah bergeser seiring dengan pluralisme aktor dalam hubungan internasional. Jika dulu keamanan didefinisikan sebagai keamanan negara yang mengandalkan senjata dan kekuatan militer, saat ini keamanan diterjemahkan sebagai human security atau keamanan warga sipil dalam menghadapi bahaya epidemi, kemiskinan, terorisme, kelangkaan pangan, dll.

Sehingga, dengan pandangan seperti ini, peluang kerjasama terbuka lebar. Menlu Natalegawa meresponsnya dengan pendekatan regionalisme. Artinya, kerjasama kawasan mesti ditingkatkan, baik di level ASEAN, ASEAN+3 (Asia Timur), atau Asia-Pasifik.

Terlebih lagi, era perdagangan bebas kawasan sudah di depan mata. Dengan konsep keseimbangan dinamis, perdamaian dingin, regionalisme, dan tantangan globalisasi ke depan, doktrin natalegawa hadir sebagai pengarah kebijakan luar negeri Indonesia.

Revitalisasi “Doktrin Hatta”?

Sebetulnya, “ijtihad” politik luar negeri yang diambil oleh Menlu Natalegawa tersebut selangkah lebih maju dari apa yang selama ini kita kenal sebagai “Doktrin Hatta”. Sejak 1945, kita sudah mengenal politik luar negeri “bebas aktif” sebagai doktrin baku.

Hatta merancangnya dengan sebuah pidato berjudul “Mendayung Di Antara Dua Karang” dan selama bertahun-tahun dipegang oleh pengambil kebijakan luar negeri kita. Dalam doktrin Hatta, posisi Indonesia adalah bebas dari konflik dua kekuatan utama –pada waktu itu Uni Sovyet dan Amerika Serikat— tetapi aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia. Doktrin tersebut dinomenklaturkan dalam pembukaan UUD 1945.

Selama bertahun-tahun pula, banyak yang salah mengartikan doktrin politik luar negeri tersebut dengan “politik luar negeri netral”. Sehingga, Indonesia sering tidak memiliki posisi yang jelas dalam hubungan internasional. Soekarno justru melanggar doktrinini dengan membuat poros Jakarta-Peking. Padahal, kata “bebas” diikuti oleh kata “aktif” sebagai penjelas, yang berarti Indonesia mesti memainkan posisi untuk perdamaian dunia tanpa ditumpangi negara-negara besar (great powers).

Pasca-perang dingin, doktrin tersebut menimbulkan pertanyaan kritis lain. Dengan absurdnya polaritas kekuatan yang jelas –dengan runtuhnya Uni Sovyet— bagaimana sejatinya posisi Indonesia? Pada titik inilah doktrin tersebut problematis.

Publik dihadapkan pada persoalan klasik seperti hubungan dengan Amerika Serikat atau perdagangan pesawat tempur dengan Rusia. Oleh karena itu, doktrin politik luar negeri baru yang lebih kontekstual dan mengejawantahkan doktrin sebelumnya dalam posisi baru sangat diperlukan. Doktrin Natalegawa kiranya dapat menjawab tantangan ini.

Kritik Konstruktif

Akan tetapi, tentu saja doktrin natalegawa tersebut tak lepas dari kritik. Dengan pandangannya mengenai keseimbangan dinamis dan perdamaian dingin, kita akan masuk pada pertanyaan: bagaimana bersikap di antara kompetisi antara kekuatan-kekuatan baru?

Masuknya Indonesia di G-20, sebuah negara-negara maju, tentu memiliki prestasi sendiri. Akan tetapi, posisi tersebut akan dihadapkan pada kepentingan nasional. Pada prinsipnya, ada tiga dimensi kepentingan nasional, yaitu kesejahteraan, pencerdasan bangsa, dan ketertiban dunia. Dengan kepentingan nasional tersebut, pemerintah harus pula menyeimbangkan politik luar negeri dengan kepentingan masyarakat luas.

Klaim diplomasi total –dengan mengikutsertakan seluruh stakeholders sebagai konstituen diplomasi— yang sering digaungkan oleh pemerintah sering menuai kritik karena dinilai tak tampak wujudnya. Padahal, visi tersebut penting agar masyarakat mengetahui keberhasilan diplomasi yang telah dilakukan.

Selain itu, kritik juga muncul pada sikap istana dalam merespons masalah-masalah internaional. Presiden Yudhoyono masih konsisten dengan semangat “zero enemy, million friends”, seperti tercermin dalam pidato-pidato kenegaraan dan sikapnya dalam merespons konflik perbatasan. Beberapa pihak mengkritik sikap ini karena dinilai pragmatis.

Jika dibandingkan, doktrin natalegawa dan sikap istana tersebut akan mengalami sedikit ambiguitas. Keseimbangan dinamis dibangun melalui penguatan kerjasama kawasan. Artinya, basis pengambilan kebijakan ditekankan pada bentukan regionalisme yang dibuat. Konflik antartetangga mesti segera diselesaikan karena kontraproduktif dengan kerjasama kawasan. Kritiknya, presiden terlalu terpaku pada citra dan semangat “zero enemy, million friends” sehingga bingung menempatkan posisi.

Tentu saja, akan terlalu prematur jika kita mengambil penilaian atas doktrin baru dalam politik luar negeri RI ini. Akan tetapi, kritik yang konstruktif perlu dibangun dan pengawasan publik perlu diperkuat, agar sesuai dengan kerangka diplomasi total yang ingin dibangun pemerintah. Semoga doktrin Natalegawa dapat menjawanya.

Jumat, 22 Oktober 2010

KISAH SEEKOR MONYET


Seekor anak monyet bersiap-siap hendak melakukan perjalanan jauh. Ia merasa sudah bosan dengan hutan tempat hidupnya sekarang. Ia mendengar bahwa di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut "hutan" di mana ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih "baik". "Aku akan mencari kehidupan yang lebih baik!" katanya. Orangtua si Monyet, meskipun bersedih, melepaskan kepergiannya. "Biarlah ia belajar untuk kehidupannya sendiri," kata sang Ayah kepada sang Ibu dengan bijak.

Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari "hutan" yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kau Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu. Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya.

Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, "Ayah, Ibu, aku tidak menemukan hutan seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama hutan." "Malah, mereka mentertawakanku." sambungnya sedih. Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu. "Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana," lanjutnya, "Ia mengatakan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai hutan itu adalah hutan yang kita tinggali ini!. Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di m hutan itu!" Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang
jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata."

Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang "jauh-jauh" yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala
rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang.

Tanpa mengecilkan arti masa depan dan sesuatu yang lebih baik, ada baiknya apabila kita fokus dengan apa yang ada di depan mata, apa yang kita kerjakan sekarang, karena hal ini akan berpengaruh terhadap masa depan Anda. Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar- benar"hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu." Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?" Ibu
membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan... Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan... Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.

"Masa depan Anda, karir Anda, serta kehidupan Anda adalah yang Anda kerjakan hari ini."

Kamis, 21 Oktober 2010

Polsri Mencari Bakat & Festival Musik Kampus.

Hampir sepekan stan pendaftaran PMB ( polsri mencari bakat ) & Festival musik kampus Polsri dibuka. Antusias mahasiswa Polsri sangat luar biasa untuk mengikuti acara yang merupakan bagian serangkaian acara DIES Politeknik Negeri Sriwijaya yang ke-XXVIII 2010. dimana acara yang di gagasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya ini merupakan acara rutin tahunan, untuk memeriahkan acara tersebut. jumlah pendaftar acara tersebut lumayan banyak,terutama peserta banyak sekali yang mendaftar untuk Polsri Mencari Bakat, acara itu sendiri di laksanakan dengan tujuan untuk untuk menggali bakat2 yang di miliki oleh mahasiswa POLSRI. acara yang akan di laksanakan pada tanggal 3,4 & 6 November 2010 ini sendiri memperlombakan Polsri Mencari bakat:
1. Seni Tari
a. Tari Tradisional
b. Tari Daerah
2. Seni Rupa
a. Karikatur
b. Kaligrafi
3. Seni Suara
a. Akustik
b. Nasid
c. Pop Song
d. Dangdut Song
e. Perkusi
f. teater & drama

MUSIK KAMPUS POLSRI

1. Festival Band POLSRI

dengan Total hadiah Rp.5.000.000 !!!! BEM Polsri sendiri masih akan membuka stan pendaftaran sampai dengan tanggal 30 oktober mendatang...!!!!!
bagi rekan2 mahasiswa Polsri yang ingin mendaftar buaruan gabung y....!!!

Jumat, 15 Oktober 2010

COMING SOON !!!!


dalam rangka Dies Natalis XXVIII POliteknik Negeri Sriwijaya kami Badan Eksekutif Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya mengadakan acara "Festival Seni Kampus Polsri(Musik Kampus dan Polsri Mencari Bakat)"
Polsri Mencari bakat:
1. Seni Tari
a. Tari Tradisional
b. Tari Daerah
2. Seni Rupa
a. Karikatur
b. Kaligrafi
3. Seni Suara
a. Akustik
b. Nasid
c. Pop Song
d. Dangdut Song
e. Perkusi
f. teater & drama

MUSIK KAMPUS POLSRI

1. Festival Band POLSRI

yang akan di adakan pada tanggal 3,4 & 6 November 2010..!! Rebut hadiahny jutaan rupiah...,..,.,

INFO LEBIH LANJUT
sekretariat BEM polsri

CP
hary : 085268408560

Rabu, 13 Oktober 2010

1.442 mahasiswa polsri mengikuti inagurasi akbar

1.442 mahasiswa baru Politeknik Sriwijaya (Polsri) tahun akademik 2010/2011 dari sembilan jurusan yang ada di Polsri, Minggu (3/10), mengikuti Inagurasi Akbar Polsri tahun 2010 selama satu hari, mulai dari pukul 06.00 s.d. 18.00 WIB, yang bertempat di halaman parkir kampus Polsri.

Salah satu agenda tahunan yang diperuntukan bagi mahasiswa baru Polsri tersebut, yang dibuka langsung oleh Pembantu Direktur III IR. Ahmad Bahri Joni Malyan mengatakan bahwa Inagurasi tersebut merupakan tradisi positif yang dilakukan oleh Polsri. Diharapkan dengan inagurasi ini, dapat bermanfaat dan menjadikan mahasiswa agar dapat lebih mempunyai rasa kepedulian dan rasa kebersamaan antara sesama civitas Polsri, baik di dalam kampus maupun di luar lingkup Polsri.

Ketua Pelaksana Inagurasi Akbar Polsri tahun 2010, Muhammad Nursidin menuturkan, beragam kreatifitas dari mahasiswa baru Polsri ditampilkan selama satu hari penuh. Ragam kreatifitas tersebut meliputi, fashion show dari mahasiswa baru masing-masing jurusan; di bidang seni, seperti penampilan group band, teatrikal, drama musical dan seni tari yang kesemuanya merupakan pertunjukan bakat dan kreasi dari mahasiswa baru.

Mengenai kepanitiaan dalam penyelenggara inagurasi akbar, Polsri bekerjasama dengan mahasiswa lama dan organisasi mahasiswa Polsri, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan seluruh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di lingkup Polsri.

“Kami melibatkan sekitar 200 orang yang tergabung dalam kepanitiaan dalam inagurasi Akbar tahun 2010 ini, mereka berasal dari mahasiswa semester tiga dan lima dan berasal dari organisasi dilingkup Polsri, seperti BEM dan HMJ,” kata Nursidin.

Nursidin yang saat ini mahasiswa semester III jurusan Administrasi Niaga, berharap dengan adanya inagurasi yang berfungsi sebagai media perkenalan ini, maka diharapkan dapat memberikan keakraban antar mahasiswa Polsri baik mahasiswa baru dengan dengan mahasiswa lama atau kakak-kakak tingkat mereka dapat terjalin dengan baik. Selain itu, ajang ini juga berguna untuk men-show-up dan memperkenalkan mahasiswa antar jurusan-jurusan yang satu dengan jurusan yang lainnya di lingkungan Polsri. (iin)

carut marut pendidikan di indonesia

Jika kita berbicara mengenai pendidikan, berarti kita tidak hanya berbicara mengenai sekolah, Guru, ataupun siswa saja akan tetapi meliputi kebijakan pendidikan makro yang disebut dengan Sistem Pendidikan Nasional. Definisi Pendidikan itu sendiri menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara, yang nantinya diharapkan pendidikan Nasional dapat tercapai. Adapun Pendidikan Nasional menurut UU yang serupa adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Dari kedua definsi diatas dapat kita asumsikan bahwa pendidikan di indonesia sudah memiliki acuan ideal tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan, sehingga sudah jelas kebijakan apa yang bisa diimplementasikan yang nantinya akan diterapkan pada setiap satuan pendidikan. Akan tetapi pada faktanya, masih banyak kebijakan (baik itu secara perundang-undangan ataupun kebijakan anggaran pendidikan) yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan konsep dari kedua definisi pendidikan tersebut.
Dalam kritiknya mengenai sistem pendidikan, Nelson, dkk (1996) memfokuskan pada tiga komponen utama yakni: landasan pendidikan, kurikulum pendidikan, dan manajemen pendidikan. Ketiga komponen itulah yang nantinya akan dibahas secara terperinci untuk dapat melihat dengan jelas bagaimana potret pendidikan di indonesia saat ini.
Atas dasar diatas lah pada tanggal 23-26 September 2010 seluruh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia yang tergabung dalam BEM SI melaksanakan “Konferensi Pendidikan” yang dipusatkan di kampus Universitas Negri Jakarta, kegiatan yang diikuti oleh sekitar 20 utusan BEM Universitas seperti : UI, UGM, UNIBRAW, UNY, UNDIP, UNILA, UPI, UNSRI, POLSRI, UDAYANA, Esa Unggul, UNSOED, ITB, UNES, UMB, dll ini datang dengan tujuan untuk menghasilkan sesuatu rekomendasi untuk di bawa pada Munas BEM SI tanggal 20 Oktober 2010 dalam rangka membahas “Kinerja 1 tahun Pemerintahan SBY & Boediono.
Dalam rapat kerja yang berlangsung selama tiga hari tersebut BEM-SI sepakat membahas mengenai “Reformasi Pendidikan Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” yang di bagi menjadi empat bagian permasalahan yakni: Reformasi Birokrasi Dalam Pendidikan Indonesia, Reformasi aksesibilitas masyarakat dan mutu pendidikan nasional, Reformasi Hukum Demi Mencapai Pendidikan Yang Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Reformasi Karekter dan Budaya Bangsa.
Reformasi Birokrasi dalam Pendidikan Indonesia dimana membahas mengenai hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, serta hubungan antar departemen penyelengggaraan fungsi pendidikan. Fokus permasalan pada Reformasi Birokrasi ini adalah Politik will yang kurang dari pemerintah untuk memperbaiki pendidikan, Kurikulum yang tidak konsisten seperti (ganti jabatan, ganti kurikulum), Dana bos yang diambil dari dana hutang (bandingkan dengan dana plisiran yang diambil dari APBN), Produk kebijakan yang mencederai konsitusi seperti (UN,RSBI,dsb), Dana pendidik yang dimasukkan dalam Anggaran pendidikan 20%. Dari aspek tersebut adanya Stakeholder yang mana di bagi menjadi dua yaitu pada Eksekutif dan legislatif mulai dari tingkat pusat hinggah daerah dimana tidak adanya skill ( kemampuan yang kurang memadai , latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan jabatan yang ditempati), dan yang berikutnya adalah Pendidik dimana kompetensi yang tidak memadai.Selanjutnya peran aparatur, dimana banyak terjadinya rekrutmen aparatur yang bermasalah, membuka celah untuk kolusi birokrasi, dan kinerja aparatur / dinas pendidikan yang sangat buruk. Terlepas dari itu semua yang paling banyak terjadi yaitu Korupsi Pendidikan dimana banyaknya penyimpangan dana pendidikan, perancangan alokasi dana pendidikan yang fiktif, serta prioritas pos anggaran pendidikan yang tidak tepat.
Dari berbagai masalah diatas kita dapat menyimpulkan bahwa “PENDIDIKAN INDONESIA HARI INI TIDAK BERDASARKAN AMANA KONSITUSI” yang mana pada pembukaan UUD 1945: tujuan negara mencerdaskan kehidupan bangsa namun hingga saat ini tujuan tersebut belum terwujud, begitu juga dalam UUD 1945 pasal 31 yang berbunyi: (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan,(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah berhak membiayainya,(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang,(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional,(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Reformasi aksesibilitias masyarakat dan mutu pendidikan nasional, Indikator pendidikan bermutu--> fenomena-fenomena pendidikan : Guru dan Siswa, Kurikulum , UN: walaupun pada November 2009 MK telah memutuskan untuk menghapus sistem Ujian Nasional, mekanisme evaluasi pendidikan yang diterapkan saat ini masih belum mengalami perubaan, yakni melalui Ujian Nasional (UN), yang nampaknya sudah rutin setiap tahun menjadi kontroversi. Padahal dalam pasal 57-59 UU sisdiknas, hanya mengatur tentang evaluasi pendidikan yang implementasinya tidak harus melalui Ujian nasional, walaupun pemerintah mencantumkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 yang mengamanatkan Ujian Nasional dari tingkat SD hingga SMTA.
Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan nasional dapat ditentukan oleh sistem evaluasi yang dipakai. Jika sistem evaluasi semacam UN yang digunakan, tidak dapat berdampak besar pada pencapaian tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan hasil penelitian Benjamin Bloom, hal ini karena tingkah laku belajar peserta didik akan dipengaruhi oleh perkiraan mereka tentang hal apa yang akan diujikan. Dampak buruk dari hal tersebut ialah peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan belajar yang tidak akan diujikan, seperti meneliti, belajar menulis makalah, belajar mengapresiasikan karya sastra, belajar berdemokrasi dan berbagai proses belajar lain yang bermakna transformasi budaya.Jika melihat tingkat kelulusan UN 2010 di tingkat SMA yang mengalami penurunan daripada UN 2009, jika pada tahun 2009 mencapai 95,05% maka pada tahun 2010 hanya mencapai 89,61%. Hal ini memberikan dampak yang mengejutkan bagi siswa-siswi yang tidak lulus dalam UN. Tujuan utama dari UN adalah mengadakan evaluasi sejauh mana siswa mendalami materi yang diberikan selama rentang waktu masa pendidikan, akantetapi alih-alih memberikan evaluasi UN malah menjadi momok yang menakutkan bagi para siswa, RSBI: konsep RSBI tidak efektif. RSBI hanya mengubah cara menyampaikan pelajaran dengan bahasa Inggris. Yang menyedihkan, kemampuan bahasa Inggris guru tidak lebih baik dari siswanya, Kesejahteraan guru, Pendidik dan tenaga kependidikan, Tata kelola pendidikan tinggi, Anggaran Pendidikan dan lain-lain.
Reformasi hukum demi mencapai pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa dimana mengkritisi peraturan perundang-undangan dan peraturan-peraturan lainnya yang terkait dengan pendidikan termasuk permasalahan otonomi daerah dan peraturan lain yang terkait dengan pendidikan nasional. Pertama yaitu produk hukum yang bermasalah bertentangan dengan peraturan di atas nya, Kedua yaitu implemntasi sudahkah sesuai dengan peraturan seperti tertuang pada : UUD 1945, UU 20 TAHUN 2003, UU APBN IMPLEMTASI ANGGARAN, UU 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN, PP 60 TAHUN 1999 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI, PP 61 TAHUN 1999 TENTANG PENETAPAN PERGURUAN TINGGI SEBAGI BADAN HUKUM,PP 48 TAHUN 2008 TENTANG PENDANAAN PENDIDIKAN, PP 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGOLAHAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN, PERMENDIKNAS TERKAIT. Dan setelah di bahas satu persatu dapat di implementasikan yaitu: sertifikasi, diskriminasi,kurikulum (pasal 36 ayat 3),wajib belajar (pasal 34) dimana setiap warga negara berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar pemerintah dan pemerintahan daerah wajib menyelenggarakan wajib belajar, pendanaan, badan hukum pendidikan bersifat nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan (pasal 53), yang ketiga penyelenggaran yang tidak optimal oleh pemerintahan daerah pelepasan tanggung jawab pemerintahan pusat, keempat implementasi anggaran pada sasaran korupsi anggaran Contoh: di Garut, Jakarta, kelima masih ada peraturan pemerintahan yang belum dibuat.
Reformasi karakter dan budaya bangsa mengenai ini kita akan bertanya ada apa dengan karakter dan budaya bangsa saat ini??? Maka kita akan menjawab saat ini kita sedang krisis karakter, hilangnya identitas degradasi moral, serta pudarnya budaya bangsa.Karakter Manusia Indonesia (Mochtar lubis, 1977. dalam buku “Manusia Indonesia”
• Munafik atau hipokrit
• Enggan dan segan bertanggung jawabya
• Bersikap dan berperilaku feodal
• Percaya tahyul
• Artistik
• Lemah watak atau karakternya
• Cipta, rasa, karsa dari manusia (Koencara Ningrat, 1922)
Budaya adalah perilaku kolektif dari sekelompok masyarakat yang dilakukan berulang-ulang). Dengan permasalahan semua ini yang paling berperan penting adalah media dimana media merupakan alat manipulasi dengan permasalahan terkini yaitu: buruknya kualitas program TV di Indonesia, melihat kecenderungan ini tidak adanya program-program tv yang menayangkan tayangan yg bersifat edukatif, berikut nya media liberal yang berkiblat pada rating, selanjutnya tidak adanya formulasi edukasi dari pemerintah, dan perlu kita ketahui menurut survey bahwa anak-anak menghabiskan waktu rata-rata 4 jam/hari di depan tv ( kidia, 2009), Media Televisi mengkonstruksi paradigma dan menciptakan peradaban.
Dari pembahasan keempat topic yang di angkat pada “Konferensi Pendidikan” BEM-SI 23-26 September 2010 ini di dapat kan suatu solusi yang beberapanya akan di bawa pada MUNAS BEM-SI pada bulan Oktober mendatang, dan beberapa lain nya akan segera di tindak lanjuti yaitu
1. Pebentukan LSM non pemerintah sebagai bentuk kontrol rakyat terhadap implementasi pendidikan di Indonesia
2. Desak pemerintah untuk lebih peduli terhadap pendidikan, yaitu dengan
• Transparansi dana pendidikan
• Selesaikan blueprint pendidikan 2025 sesuai dengan janji pemerintah
• Revisi UU pendidikan yang tidak sesuai dengan amanah konstitusi
3. Negara harus bertanggungjawab menyediakan pendidikan gratis untuk masyarakat.
4. Tolak segala bentuk komersialisasi pendidikan.
5. Transparansi informasi pendidikan.
6. Setarakan sarana dan infrastruktur pendidikan dengan asas proporsionalitas
7. Realisasikan pendidikan kedinasan guna menciptakan tenaga pengajar yang berkompeten di bidangnya.
8. Realisasikan pendidikan keahlian berdasarkan kearifan lokal.
9. Masukkan filosofi pendidikan atau cita-cita pendidikan nasional di dalam kurikulum pendidikan sebagai suatu bahan ajar.
10. Realisasikan peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga pengajar.
11. mendesak pemerintah mengimplementasikan UUD dan UU SISDIKNAS (impelementasi point2 permasalahan)
12. mendesak pemerintah dan dpr meriview peraturan terkait yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam UUD dan UU SISDIKNAS
13. mendesak pengawasan terhadap impelementasi UUD
14. merekomendasi kepada bem si untuk membentuk panitia kerja yang membahas buku hitam dan rekomendasi
15. Memberikan rekomendasi cetak biru pendidikan karakter Indonesia
16. Dengan muatan profetik keagamaan, tutorial, kearifan lokal, olah raga dan muatan yang menyeimbangan otak kanan dan otak kiri
17. Merevitalisasi bimbingan konseling
18. Mendukung RUU wajib militer :Sebagai langkah penanaman nilai-nilai kepatuhan hukum, kedisiplinan, jiwa patriotisme,dll
19. Memberikan bentuk dukungan kepada KPI untuk menghapuskan program-program yang destruktif
20. Membudayakan dan mengkapanyekan busana “batik”
21. Community Development (membimbing anak-anak di daerah setempat)
22. Menjadi role model / panutan
23. Pendidikan keluarga
24. Group FB “say no to infotainment”
25. Menulis opini dan disebar luaskan di berbagai media.

Struktur BEM POLSRI 2010-2011


Darius Amiri Presiden Mahasiswa
Fikri Syaryadi Wakil Presiden Mahasiswa
Lia Pitrianita Menteri Sekretaris Kabinet
Fadilla Menteri Keuangan
Apri Ramadhan Menko PTKP
Zhelmia Yuliana Sesmenko PTKP
Siswandi Menko Kekaryaan
Dina Septa Fajrina Sesmenko Kekaryaan
M. Mirwansyah Putera Menko Kesejahteraan Mahasiswa
Nur Tanzila Fajri. K Sesmenko Kesejahteraan Mahasiswa
Renza Marysandi Menko Hubungan Mahasiswa
Varagita Kusuma Sesmenko Hubungan Mahasiswa
Saddam Hussein Menteri PTKP
Ismail Aji Putra Staff PTKP
Eva Ardila Staff PTKP
Yessy Permata Sari Staff PTKP
Edwin Frymaruwah Menteri Sosial dan Agama
Riski Ramayani Staff Sosial dan Agama
Indah Pratiwi Staff Sosial dan Agama
Nur Shabrina Staff Sosial dan Agama
Nia Nurul Sabrina Menteri Pemberdayaan Perempuan
Marini Aristia Staff Pemberdayaan Perempuan
Meyrizah Staff Pemberdayaan Perempuan
M.Hamdi Menteri Unit Kegiatan Mahasiswa
Ade Burlian Saputra Staff Unit Kegiatan Mahasiswa
Melania Wati Staff Unit Kegiatan Mahasiswa
Rizky Leonardo Staff Unit Kegiatan Mahasiswa
Harry Sukma Pradinata Staff Unit Kegiatan Mahasiswa
Abdis Salam Staff Unit Kegiatan Mahasiswa
Muhammad Muhlisin Menteri Aspirasi Mahasiswa
Darmaji Staff Aspirasi Mahasiswa
Hadi Saputra Staff Aspirasi Mahasiswa
Muhammad Iqbal Tanjung Staff Aspirasi Mahasiswa
Andre Hardoni Staff Aspirasi Mahasiswa
Apriliana Srikandinavia Staff Aspirasi Mahasiswa
M. Nursidin Staff Aspirasi Mahasiswa
Sefri Khardianis Hafero Staff Aspirasi Mahasiswa
Pratami Dwi Puspa Staff Aspirasi Mahasiswa
Khoirur Ridjal Menteri Kajian Strategis
M. Ricky Ardiansyah Wakil Menteri Kajian Kebijakan Kampus & Politik
M. Rasyad Barokah Staff Kebijakan Kampus dan Politik
Muhammad Royyan Staff Kebijakan Kampus dan Politik
Anggun Budiarti Staff Kebijakan Kampus dan Politik
Bambang Margarentho Wakil Menteri Advokasi Mahasiswa
Mualimin Santoso Staff Advokasi Mahasiswa
Maria Christine Lilipaly Staff Advokasi Mahasiswa
Agus Maryadi Staff Advokasi Mahasiswa
Imam Akhmad. Z Menteri Komunikasi dan Informatika
Alwy Musthafa Wahid Staff Komunikasi dan Informatika
Ayu Riszka Wulandari S Staff Komunikasi dan Informatika
Krismarinda Dwi Putri Staff Komunikasi dan Informatika
Dwi Cahya Nugraha Menteri Luar Kampus
Pajri Husaini Staff Luar Kampus
Muhammad Hendro Staff Luar Kampus
Tenny Vidia Staff Luar Kampus